Thursday, 20 August 2015

Kisah Teladan Aisyah binti Abu Bakar

Kecemburuan Aisyah binti Abu Bakar pada Khadijah

Aisyah binti Abu Bakar hidup dan tinggal bersama Rasulullah. Aisyah menjadi istri nabi yang paling pencemburu. Aisyah binti Abu Bakar melihat Nabi saw sangat mencintai almarhum Khadijah. Aisyah binti Abu Bakar ra. berkata,

“Aku tidak pernah mencemburui seorang pun istri Rasulullah melebihi kecemburuanku kepada Khadijah, karena seringnya Rasulullah mengingat dan menyanjungnya.” (HR. Bukhari dalam kitab Manaqibul Anshar (VII/166 [3818]), dan kitab An-Nikah (IX/237[5229])
Hadis ini mengisyaratkan bahwa kecemburuan adalah hal yang wajar. Seorang istri Nabi saja bisa cemburu, apalagi seorang istri biasa. Hal ini membuat Aisyah binti Abu Bakar terasa istimewa karena banyak kejadian seputar romantisme ala Nabi yang melibatkan dirinya. Seperti saat Aisyah binti Abu bakar cemburu pada istri nabi yang lain hingga ia tidak mampu menahan kecemburuannya tersebut di hadapan tamu nabi.
Pelajaran berharga yang bisa Abi dan Ummi tiru dari kisah teladan Aisyah binti Abu Bakar adalah agar perempuan bisa menahan diri dari cemburunya pada suami. Suami juga harus bersikap adil pada istri sehingga ia merasa tentram bersama suaminya baik suaminya dalam keadaan bersamanya maupun berkumpul bersama teman-temannya. Seorang istri juga harus mentabayunkan tentang kecemburuannya sehingga tidak mengobarkan api cemburu menjadi kecurigaan tidak beralasan pada sang suami.

Cara Berdandan Aisyah binti Abu Bakar

Aisyah binti Abu Bakar berdandan untuk Nabi, suaminya setiap hari hingga beliau tidak pernah melihat Aisyah kecuali dalam keadaan yang beliau sukai. Aisyah binti Abu Bakar juga memakai baju yang dicelup warnanya baik dengan warna kuning maupun warna merah. Ini dilakukan di hadapan sang suami yaitu Nabi. Namun jika di luar, Aisyah binti Abu Bakar menutup wajahnya dengan cadar agar semua orang termasuk sahabat nabi tidak mengetahui seberapa kecantikannya.
Aisyah binti Abu Bakar juga menyukai wewangian dan perhiasan yang dikagumi oleh Rasulullah saw. Aisyah adalah wanita yang cantik parasnya, indah perawakannya, bersih bajunya, tak pernah lalai merawat dirinya. Ibnu Hajar berkata bahwa dia sangat menjaga kebersihan baju yang dia gunakan untuk tidur bersama Nabi saw. Salah satu bentuk  perhatiannya terhadap kebersihan adalah bahwa dia bersiwak untuk menjaga kesehatan giginya. Urwah berkata,”Kami mendengar suara bersiwaknya Ummul Mukminin Aisyah di kamar.”
Aisyah juga menemani dan merawat Nabi saw.  saat beliau haji. Aisyah mengoleskan minyak wangi ke tubuh Nabi saw sebelum beliau melakukan ihram dan sesudah tahalul sebelum melakukan thawaf ifadhah. Aisyah mengoleskan minyak wangi ke tubuh beliau dengan tangannya sendiri. Dia memilihkan minyak wangi yang paling harum untuk suaminya. Aisyah  ra bertutur,
“Aku mengoleskan minyak wangi ke tubuh Rasulullah saw dengan tanganku ketika beliau hendak melakukan ihram, dan ketika beliau melakukan tahalul sebelum melakukan thawaf di Baitullah.” (HR. Muslim, Kitab Al-Hajj VIII/98,99 (1189)
Urwah bin Zubair bertanya kepada Aisyah ra., “Minyak apa yang engkau oleskan kepada Rasulullah saw ketika beliau ihram? Aisyah menjawab,”Minyak wangi yang paling harum.” (Ahkamun Nisa’karya Ibnul Jauzi (hlm. 125) dan Al-Kabair karya Adz-Dzahabi (hlm. 151)
Aisyah mewasiatkan pada para wanita dalam bersikap kepada suami bahwa ada banyak kewajiban yang harus ditunaikan seorang istri pada suaminya. Ini berkaitan dengan kedudukan wanita tersebut dalam sebuah rumah tangga islami. Bahwa seharusnya perhiasan dan kecantikan seorang istri haruslah ditempatkan pada kedudukan yang utama yaitu suami mereka, bukan untuk selainnya. Wanita yang menyepelekan dan kurang memerhatikan masalah ini akan mengakibatkan seornag istri mendapat dosa dan membuat berpalingnya pandangan suami kepada wanita lain.
Sebagai ummahatul mukminin, Aisyah binti Abu Bakar patut dijadikan teladan bagi kita semua. Semoga sahabat Abi dan Ummi dimudahkan oleh Allah untuk meneladani keistimewaan Aisyah, istri Nabi Muhammad saw.

Selesai.

No comments: