Tuesday, 2 May 2017

Kumpulan Quote RA. Kartini Yang Menginspirasi Hidupnya

Kumpulan Quote RA. Kartini

Raden Adjeng Kartini dikenal sebagai RA Kartini, ia adalah pahlawan yang mempunyai semangat tinggi dan pantang menyerah dalam memperjuangkan hak-hak wanita Indonesia. Ia membela kaumnya untuk mendapatkan kesamaan hak dalam pendidikan. Di zaman dulu, perempuan tidak bisa mendapatkan pendidikan baca dan tulis seperti laki-laki.

Sekolah diperuntukkan untuk kaum bangsawan yang berada. Maka, RA Kartini yang termasuk kaum bangsawan pun memiliki pemikiran yang revolusiner. Ia mencurahkan isi hatinya tentang kegundahannya terhadap apa yang ia khawatirkan. Bahwa perempuan hanya akan ada di dapur, sumur dan kasur, tidak akan pernah mengenyam pendidikan. Ia pun membuat surat yang ditulisnya kepada sahabat penanya di Belanda. Surat-surat itu menjadi kumpulan surat dan diterbitkan menjadi buku berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang.

Baca juga : Quote Imam Syafi'i

Inspirasi tersebut didapatkan RA. Kartini melalui Surat Al Baqarah ayat 257. Ayat yang berbunyi, “Minadh-Dhulumaati ilan Nuur” inilah yang mengubah cara pandang Kartini terhadap dunia yang dijalaninya. R.A Kartini menemukan ayat yang menyentuh hati nuraninya. Dari gelap kepada cahaya, begitulah arti dari potongan ayat yang memiliki kedalaman makna, begitu dalam filosofi hidup RA. Kartini, sebelum akhirnya terganti dalam bahasa Belanda “Door Muisternis Tot Licht” yang diterjemahkan “Dari Gelap Terbitlah Terang”

Inilah Kumpulan 25 Quote RA. Kartini Yang Menginspirasi Hidupnya :

  1. “Banyak hal yang bisa menjatuhkanmu. Tapi, satu-satunya hal yang benar-benar menjatuhkanmu adalah sikapmu sendiri.” – RA. Kartini
  2. “Tidak ada sesuatu yang lebih menyenangkan, selain menimbulkan senyum di wajah orang lain, terutama wajah yang kita cintai.” – RA. Kartini
  3. “Teruslah bermimpi, teruslah bermimpi, bermimpilah selama engkau dapat bermimpi! Bila tiada bermimpi, apakah jadinya hidup! Kehidupan yang sebenarnya kejam.” – RA. Kartini
  4. “Cita-cita itu adalah memperindah martabat manusia, memuliakannya, mendekatkan pada kesempurnaan.”
  5. “Jangan mengeluhkan hal-hal buruk yang datang dalam hidupmu. Tuhan tak pernah memberikannya, kamulah yang membiarkannya datang.”
  6. “Terkadang bukan fisik yang membuat seseorang menjadi menarik dan inspiratif, melainkan adanya cinta kasih dan perjuangan.”
  7.  “Jangan pernah menyerah jika kamu masih ingin mencoba. Jangan biarkan penyesalan datang karena kamu selangkah lagi untuk menang. Terkadang, kesulitan harus kamu rasakan terlebih dahulu sebelum kebahagiaan yang sempurna datang kepadamu.”
  8. “Saat suatu hubungan berakhir, bukan berarti kedua orang saling berhenti mencintai. Mereka hanya berhenti saling menyakiti.”
  9. “Dan, siapakah yang lebih banyak berusaha memajukan kesejahteraan budi itu, siapakah yang dapat membantu mempertinggi derajat budi manusia, ialah wanita, ibu... karena haribaan ibu, itulah manusia mendapatkan didikannya yang mula-mula sekali.”
  10. “Hidup harus terus berlanjut, tidak peduli seberapa menyakitkan atau membahagiakan, biarlah waktu yang menjadi obat.”
  11. “Banyak emansipasi wanita bukanlah untuk persamaan derajat, emansipasi adalah pembuktian diri yang seimbang antara raga yang tangguh, namun hati senantiasa patuh. Emansipasi ada penerimaan. Penerimaan diri bahwa setiap tempat ada empu yang dikodratkan dan dipantaskan.”
  12. “Wanita berpendidikan tinggi bukan untuk menyaingi laki-laki, tapi untuk mencetak generasi penerus.”
  13. “Lebih banyak kita maklum, lebih kurang rasa dendam dalam hati kita. Semakin adil pertimbangan kita dan semakin kokoh dasar rasa kasih sayang, tiada mendendam, itulah bahagia.”
  14. “Bermimpilah, bermimpilah, dengan hal yang demikian hatimu merasa berbahagia, mengapatah akan tidak?”
  15. “Tahukah engkau semboyanku? Aku mau! 2 patah kata yang ringkas itu sudah berapa kali mendukung dan membawa aku melintasi gunung keberatan dan kesusahan. Kata aku tiada dapat! Melenyapkan rasa berani. Kalimat aku mau! Membuat kita mudah mendaki puncak gunung.”
  16. “Perubahan akan datang di bumiputera. Jika karena tidak kamu, pasti dari orang lain. Emansipasi telah berkibar di udara. Sudah ditakdirkan.”
  17. “Dan biarpun saya tiada beruntung sampai ke ujung jalan itu, meskipun patah di tengah jalan, saya akan mati dengan merasa berbahagia, karena jalannya sudah terbuka dan saya ada turut membantu mengadakan jalan yang menuju ke tempat perempuan Bumiputera merdeka dan berdiri sendiri.” – RA. Kartini
  18. “Tak peduli seberapa keras kamu mencoba, kamu tak akan pernah bisa menyangkal apa yang kamu rasa. Jika kamu memang berharga di mata seseorang, tak ada alasan baginya untuk mencari seseorang yang lebih baik.”
  19. “Tiada awan di langit yang tetap selamanya. Tiada mungkin akan terus-menerus terang cuaca. Sehabis malam gelap gulita lahir pagi membawa keindahan. Kehidupan manusia serupa alam.”
  20. “Tetapi sekarang ini, kami tiada mencari penglipur hati pada manusia, kami berpegangan teguh-teguh pada tangan-Nya. Maka hari gelap gulita pun menjadi terang, dan angin ribut pun menjadi sepoi-sepoi.”
  21. “Adakah yang lebih hina, daripada bergantung kepada orang lain?”
  22. “Tubuh boleh terpasung. Tapi jiwa dan pikiran harus terbang sebebas-bebasnya.” – RA. Kartini
  23. “Gadis yang pikirannya sudah dicerdaskan, pemandangannya sudah diperluas, tidak akan sanggup lagi hidup di dalam dunia nenek moyangnya.” – RA. Kartini
  24. “Jika saja masih anak-anak ketika kata-kata emansipasi” belum ada bunyinya, belum berarti lagi bagi pendengaran saya, karangan dan kitab-kitab tentang kebangunan kaum putri masih jauh dari angan-angan saja, tetapi di kala itu telah hidup di dalam hati sanubari saya satu keinginan yang kian lama kian kuat, ialah keinginan akan bebas, merdeka, berdiri sendiri.” (Surat RA. Kartini kepada Nona Zeehandelaar, 25 Mei 1899)
  25. “Pendidikan untuk wanita sangat penting dalam konteks mendukung perannya sebagai istri dan ibu yang bermimpi besar. Tapi kalau salah kaprah dan menelantarkan anak-anaknya berarti sama saja dengan membodoh lagi.” – RA. Kartini

No comments: