Wednesday, 18 April 2018

Rohingya dan Memanusiakan Manusia


Rohingya dan Memanusiakan Manusia

Dunia terhentak ketika berita mengenai Rohingya tersebar. Semua bermula ketika insiden bentrokan antara kelompok bersenjata di Rakhine, Myanmar dengan Militer Myanmar. Bentrokan tersebut dipicu oleh serangan yang dilakukan kelompok bersenjata kepada pos polisi dan satu pangkalan militer di Rakhine. Peristiwa tersebut membuat pihak Militer Myanmar pun melakukan operasi pembersihan untuk menangkap pelaku penyerangan tersebut. 




Namun, alih-alih menangkap para pelaku, militer Myanmar justru menyiksa, membakar rumah dan membunuh para etnis Rohingya yang berada di Rakhine. Akibat dari insiden ini, total 1000 orang tewas dan lebih dari 500 ribu etnis Rohingya memutuskan untuk mengungsi ke beberapa Negara salah satunya adalah Bangladesh.

Buntut dari kejadian tersebut, Badan Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) yang dikenal peduli anak, mendata ada sekitar 340 ribu pengungsi yang merupakan anak-anak Rohingya di Bangladesh. Jumlah tersebut terus bertambah setiap pekannya seiring bentrokan yang tak kunjung berakhir. UNICEF memperkirakan bahwa sekitar 12 Ribu anak-anak pengungsi lainnya akan datang ke camp pengungsian agar terhindar dari bentrokan dan pembunuhan massal yang terjadi di sana.

Di camp pengungsian, UNICEF, dengan kampanye peduli anak UNICEF, melaporkan bahwa anak-anak yang mengungsi berada dalam kondisi yang memprihatinkan. Ratusan ribu pengungsi anak-anak mengalami gejala diare dan kolera. Hal tersebut disebabkan karena keadaan mereka yang kekurangan makanan, air bersih dan perawatan kesehatan yang memadai. UNICEF bahkan menyatakan bahwa kejadian ini bukanlah kejadian jangka pendek melainkan kejadian jangka panjang mengingat efek panjang yang akan terjadi pasca pembantaian massal ini. 

Di sisi lain, UNICEF mengakui bahwa mereka masih kesulitan untuk menyediakan fasilitas kesehatan yang maksimal di camp pengungsian mengingat besarnya dana yang dibutuhkan. Diperkirakan, dana sebesar 76 Juta US Dollar dibutuhkan untuk menyediakan fasilitas yang layak bagi para pengungsi Rohingya terutama para anak-anak. 

Oleh karena itu, UNICEF membuka donasi peduli anak untuk membantu para pengungsi di Rohingya agar bisa merasakan hidup seperti manusia seutuhnya lagi. Karena memanusiakan manusia merupakan hal yang baik untuk dilakukan. :)


No comments: