Saturday, 15 January 2022

[Kesenian dan Budaya Jepang] Rakugo : Menciptakan Dunia dari Ketiadaan

 

Jepang zaman edo tempo dulu


Hanya seorang diri di panggung, tanpa kostum dan dekorasi. Hanya dengan gerakan dan kata-kata, tawa pun tercipta. 


Apa esensi Rakugo yang dapat memikat orang lebih dari 4 abad?


Tema Rakugo adalah pengalaman batin dan hal-hal yang manusiawi seperti kebahagiaan, kesedihan, dan kekesalan. Semua itu dijadikan lelucon untuk dinikmati penonton. 


Yanagiya Sankyu, seorang Rakugo Storyteller, sudah 55 tahun melakoni kesenian Rakugo. Baginya Rakugo sangat dicintai dan dibanggakan. Kesenian ini menjadi kehidupannya hingga kini.


Menurutnya, pesona rakugo bisa dipahami oleh siapa saja, bahkan oleh anak kecil sekalipun. Karena Rakugo lahir dari kesederhanaan. Dimulai dari suara dan gensture tubuh, rakugo menghadirkan hiburan bagi masyarakat Jepang tempo dulu hingga kini. 


Asal usul Rakugo : 


Lima abad yang lalu, saat para samurai berlaga pada masa perang saudara, Otogishu yang mendampingi para jendral menuturkan kisah jenaka untuk mengurangi ketegangan. Konon, ini merupakan salah satu akar terbentuknya kesenian Jepang bernama Rakugo.


Abad ke-17, pada zaman Edo yang damai, rakugo dipoles menjadi budaya adiluhung. Hanya ada satu orang di panggung kosong. Ia bercerita dan membuat penonton tertawa dengan kalimat pamungkas. 



Tidak ada tandingan Rakugo di dunia ini. Banyak yang bisa diekspresikan dari kekosongan.


Pendengar diajak membayangkan sendiri ceritanya karena sederhana, kesedihan dan kejenakaannya lebih terasa. Kesederhanaan itu dibentuk selama 3-4 abad. 


Mengapa kesederhanaan rakugo bisa terus memikat orang selama lebih dari 4 abad? 


Penonton dan pencerita Rakugo berbagi kata-kata, perasaan, dan pemandangan. Dengan begitu terciptalah satu Rakugo yang utuh. Kemampuan pencerita saja tidak cukup. Penonton pun tidak akan terhibur jika mengandalkan dunia sendiri. Dengan berbagi imajinasi yang sama, maka karya yang bagus bisa tercipta.


Saksikanlah cara pencerita menciptakan dunia dan cara penonton membayangkannya.


❤️❤️❤️


"Hatsu Tenjin" : Kisah bapak-anak yang mengunjungi kuil pada tahun baru.


"Ayah! Ajak aku ke kuil dong!"

"Tidak mau! Kamu pasti minta dibelikan ini-itu."

"Jangan begitu, Ayah. Aku tidak minta dibelikan apa-apa. Aku akan bersikap baik. Ayo ajak aku!".

"Ngomong apa kamu? Memang pernah kau bersikap baik?"

"Ih, Ayah..."

"Apa boleh buat. Ayo! Tapi, jangan minta dibelikan macam-macam ya!"

"Iya!"

"Janji?" 

"Janji!"

"Sungguh?"

"Sungguh!"

"Serius?"

"Serius!"

"Benar ya? Janji ya?"

"Ya sudah, Ayah ajak. Ayo!"


🍁🍁🍁


"Lihat anak itu bergelantungan… diangkat oleh ayah-ibunya. Manisnya anak itu. Jadi anak harus patuh."

"Aku juga mau diangkat."

"Dasar bocah! Ya sudah. Sini tanganmu Pegang yang kuat ya, akan kuangkat."

"Ayah polos ya."

"Lancang! Mengejek orang tua."

"Ada orang. Jangan jauh-jauh dari Ayah biar tidak hilang."

"Tenang Aku tidak akan hilang."


🍁🍁🍁


"Wah, banyak orang ya."

"Banyak warung juga. Ada jajanan."

"Aku tidak merengek minta dibelikan ini-itu. Aku sudah bersikap baik. Ayo belikan hadiah."

"Mulai deh!"

"Ayah, ada warung dango!" 

"Bilang apa kau?"

"Dango!"

"Tidak boleh!" 

"Dango! Dango! Dango! Belikan dango!" 

"Jangan keras-keras suaranya!"



❤️❤️❤️


Para penonton membayangkan yang tengah terjadi. Saya pun menawarkan dunia saya kepada penonton. Ketika imajinasi saya dan penonton selaras, saya merasa gembira sampai ingin loncat, karena penonton merasakan suasana yang sama. 


Penonton ingin mendengar lagi, merasakan lagi. Mereka datang lagi untuk mendengarkan rakugo. 


❤️❤️❤️


Dialog Pertunjukan Rakugo :


"Terima kasih!"

"Waduh, menetes." 

"Agar bisa dimakan anak-anak."

"Ada madunya?"

"Makanlah."

"Tidak mau!"

"Ayah sudah menjilati madunya." 


❤️❤️❤️


Rakugo, kesenian yang disempurnakan sekian lama di atas panggung. Ada lebih 500 cerita yang dibawakan lebih dari 1000 pencerita rakugo. 

Mari saksikan teknik menyampaikan humor dari masing-masing cerita. Yang tidak terlihat akan tampak "memperlihatkan" lewat gerakan. 


❤️❤️❤️


Contoh Dialog Rakugo :


"Aduh, capek."

"Selamat siang."

"Selamat datang. Mau pesan apa?"

"Sake dua cangkir dan tuna sashimi."

"Silakan."

"Senangnya." 

"Sake paling enak diminum saat letih. Ah, sedapnya."

*Mencocol wasabi yang banyak.

"Ah, enak sekali."

"Aduh, wasabinya menyengat. Sampai nangis." 

"Berapa?"

"Satu shu."

"Sebentar ya. Ini uangnya."

"Terima kasih."

"Sake… Aduh, hujan deras sekali."




"Rumah siapa ini? Samurai kah?"

Membersihkan pedang

"Ih, berlebihan"


🍁🍁🍁



"Hujan sudah reda. Pergi ah."

"Soba… Pas sekali. Saya pesan semangkuk."

"Terima kasih."

"Hari ini dingin ya."

"Maaf sudah menunggu."

"Sudah jadi?"

"Sumpitnya sekali pakai."

"Hmm, harum."

"Terima kasih."

"Soba tipis memang enak. Enak..."

"Terima kasih."

"Berapa?"

"16 mon." 

"Tunggu sebentar. Ada uang receh."

"Ini 16 mon. Terima kasih."




❤️❤️❤️


"Ibu, aku pulang!"

"Kuma, kok pulang larut?"

"Seharusnya lebih cepat. Soalnya hari ini aku sibuk. Aku mau tidur. Selamat tidur!"

"Hei, Kuma! Ya ampun, tidur dia."


🍁🍁🍁


Nasib Para Pencerita Rakugo :


Demi memperdalam esensi rakugo para pencerita terus memoles teknik. Cuma satu pencerita dan satu rakugo. Seni bercerita rakugo yang ia ciptakan akan mati bersamanya. 


"Sekalipun saya mengajari murid saya, hasilnya pasti beda. Sebab setiap orang punya ciri khas. Jika mewariskan rakugo tanpa kekhasan individu, hasilnya tidak akan menarik. Rakugo bukan seni yang diwariskan. Kalau pelakonnya wafat berakhir pula seninya."


Inilah klimaks lakon Hatsu Tenjin Saksikanlah teknik yang luar biasa. 😉


❤️❤️❤️




Lanjutan Contoh Dialog Rakugo :


"Ayah, ada yang jual layangan."

"Layangan! Layangan!"

"Sudah, tidak usah berteriak! Makanya Ayah tidak mau mengajakmu. Uang untuk sumbangan kuil sudah habis. Taruh di sini."

"Minta tolong naikkan layangan?"

"Di sana sepi."

"Apa boleh buat. Sini Ayah mainkan. Bawa kemari!"

"Ayah di mana? Di sini?."

"Salah, di sana." 

"Di mana? Di sini?"

"Layangannya naik. Wah, Ayah hebat! Langsung naik!"

"Tentu saja. Sewaktu kecil Ayah pintar main layangan."

"Wah! Naik terus!"

"Kalau sudah lebih tinggi Ayah serahkan kepadamu."

"Sungguh? Berikan kepadaku!"

"Berisik! Sana pergi. Ini bukan mainan anak-anak."

"Lho, Ayah kan membelikan untuk aku. Kalau begini, sebaiknya tidak mengajak Ayah."

-End-

❤️❤️❤️


Sumber : Japan Foundation 

https://youtu.be/C_80hYmPMtc

No comments: